Cari informasi lainnya

Thursday, March 29, 2012

Batuan Sedimen



 

 

Batuan Sedimen

 

 
   Batuan yang terbentuk akibat lithifikasi dari hancuran batuan induk. Lithifikasi batuan meliputi proses kompaksi autigenik dan diagenesa (proses terubahnya material-material lepas menjadi batuan yang kompak).

 
    Batuan sedimen sangat banyak jenisnya dan tersebar luas dengan ketebalan dari beberapa cm sampai beberapa km. Secara lateral penyebaran batuan sedimen mencapai 70 % dari batuan yang ada dipermukaan akan tetapi batuan sedimen hanya merupakan 5 % dari batuan yang ada di bumi.

    Secara umum batuan sedimen terbagi atas dua kelompok besar yaitu :

 
1. Batuan Sedimen Silisiklastik
  • Batuan sedimen silisiklastik merupakan batuan ekstrabasinal yang pembentukannya melibatkan proses epigen dari batuan sumber atau pre-existing rock.
  • Batuan silisiklastik berdasarkan besar butirnya dikelompokkan menjadi kelompok mudrock, batupasir dan konglomerat atau breksi.
  • Fragmen rombakan bisa jadi terdiri dari fragmen batuan tetapi pada umumnya tersusun atas mineral kuarsa yang merupakan mineral paling stabil dan felspar sedangkan butiran yang berukuran halus akan menjadi batulanau, batulempung maupun sebagai matrik dalam batuapasir, breksi dan konglomerat.
  • Butir-butiran klastik pada batuan ini terbentuk setelah mengalami proses-proses pelapukan mekanik atau kimiawi maupun keduanya, proses transportasi serta pengendapan.
  • Transportasi sedimen dapat terjadi oleh adanya air, angin, es, arus pasang-surut dan arus turbidit.
  • Kenampakan umum yang sangat penting dalam batuan silisiklastik adalah struktur sedimen dan tekstur terutama yang terbentuk selama proses pengendapan, post depositional atau saat diagenesis.

 
2. Batuan karbonat
  • Batuan karbonat adalah batuan sedimen yang mempunyai komposisi yang dominan (>50 %) terdiri dari garam-garam karbonat yang secara umum meliputi batugamping dan dolomit.
  • Batuan karbonat merupakan batuan intrabasinal yang pembentukannya tidak mengalami erosi dan transportasi tetapi butiran-butiran karbonat mencerminkan produktivitas organik.
  • Proses pembentukannya dapat terjadi secara insitu yang berasal dari larutan yang mengalami proses kimiawi maupun biokimia pada proses tersebut organisme turut berperan, dapat pula terjadi dari butiran rombakan yang telah mengalami transportasi secara mekanik dan kemudian diendapkan pada tempat lain dan pembentukannya dapat pula terjadi akibat proses diagenesa dari batuan karbonat yang lain seperti dalam proses dolomitisasi dimana kalsit berubah menjadi dolomit.

 

 
Sedangkan berdasarkan proses pembentukkannya batuan sediment terbagi atas:
  1. Sedimen Klastik
  2. Sedimen non klastik Sedimen kimiawi
Sedimen biologic

 
Sedimen klastik
Mengalami transportasi dengan media fluida (air, angin, gletser) sehingga pengendapannya tidak pada tempat terdapatnya batuan induk.
Contoh : Batupasir, konglomerat
Sedimen non klastik
Umumnya insitu atau tidak mengalami transportasi sehingga pengendapannya relative dekat dengan batuan induk.

 
  1. Sedimen organik
    Batuan sedimen yang dihasilkan oleh aktivitas organisme, terdapat sebagai sisa organisme yang biasanya tetap tinggal di tempatnya.
    Contoh : Batugamping terumbu, batubara
  2. Sedimen kimia
    Batuan sedimen yang dihasilkan oleh proses penguapan, terutama di daerah aride.
    Batuan ini umumnya hanya tersusun atas satu komposisi mineral dengan kilap yang umumnya non-metalik.
    Contoh : Gipsum,

     
Komposisi batuan sedimen dapat dibedakan menjadi 3, yaitu :
1. Fragmen Butiran pembentuk batuan yang berukuran paling besar. Fragmen dapat berupa butiran mineral, batuan atau fosil.

 
2. Matrik Bagian dari butiran pembentuk batuan yang berukuran lebih kecil dari fragmen. Biasanya berkomposisi sama dengan fragmen.

 

3. Semen Bahan pengikat antara fragmen dengan matrik.
Dalam sediment klastik dikenal 3 macam semen yaitu :
  • Karbonat : Kalsit, dolomite
  • Silikat : Kalsedon, Kuarsa
  • Oksida Besi : Hematit, limonit
Silisiklastik
  • Komposisi batuan silisiklastik terdiri atas fragmen, matrik dan semen.
  • Batuan sedimen klastik tersusun oleh butiran-butiran hasil rombakan atau detrital grains sebagai pembentuk kerangka utama batuan sedimen.
  • Matriks yang terdiri dari butiran halus menempati ruang antar butiran, sedangkan mineral autogenic dan semen terbentuk pada saat diagenesa.
  • Komposisi mineral yang dominan pada batuan silisiklastik adalah mineral-mineral stabil yang tahan terhadap proses pelapukan dan transportasi.
  • Mineral yang sering dijumpai pada batuan sedimen silisiklastik diantaranya adalah kuarsa sebagai mineral paling stabil, feldspar yang berasal dari batuan induk yang sama dengan kwarsa, mika dan mineral lempung.
  • Butiran-butiran tersebut selanjutnya akan diikat oleh semen yang dapat berupa semen silika, semen karbonat dan oksida besi.

 
Karbonat
  • Pada dasarnya komposisi batuan karbonat sangat bervariasi tetapi secara umum dapat dikelompokkan menjadi non skeletal grains, skeletal components, micrite dan cement.
  • Butiran tersebut merupakan butiran karbonat dan bagian dari sisa organisme yang dibagi berdasarkan bentuk butir dan ukuran butirnya.
  • Karena lingkungan pembentukan batuan karbonat yang sangat khas maka detritus asal darat sangat sedikit bahkan tidak ada dalam batuan karbonat.
Menurut Pettijohn (1975) tekstur adalah suatu kenampakan yang berhubungan dengan ukuran dan bentuk butir serta susunannya. Secara umum tekstur batuan sedimen mencerminkan proses-proses yang terjadi pada saat pengendapan.

 
Tekstur batuan sedimen Klastik
  1. Ukuran butir
    Ukuran butir pada batuan sediment klastik menggunakan skala wenthworth sebagai parameternya.
    Tabel 1. Skala wenthworth
Wentworth Size Scale
Boulder
>256 mm
Conglomerate
Cobble
64-256 mm
Pebble
2-64 mm
Sand
1/16-2 mm
Sandstone
Silt
1/256-1/16 mm
Siltstone
Clay
<1/256 mm
Shale
  1. Derajat pemilahan (sortasi)
    Merupakan gambaran tingkat keseragaman dari butiran pembentuk batuan sediment.
    1. Pemilahan baik (well sorted)
    2. Pemilahan sedang (moderately sorted)
    3. Pemilahan buruk (poorly sorted)
  2. Derajat Pembundaran (Roundness)
    1. Menyudut (angular)
    2. Menyudut tanggung (sub-angular)
    3. Membulat tanggung (sub rounded)
    4. Membulat (rounded)
    5. Membulat baik (well rounded)
  3. Kemas
    Menunjukkan hubungan kerapatan antara butiran penyusun dalam batuan sediment.
    1. Kemas terbuka : kerapatan antar butiran kecil/renggang
    2. Kemas tertutup : kerapatan antar butiran besar/rapat

     
  • Pada batuan silisiklastik butirannya akan dibedakan berdasarkan ukurannya yaitu mulai dari ukuran yang paling halus hingga paling kasar.
  • Pada umumnya pembagian ukuran butir pada sedimen klastik menggunakan skala Wentworth yang selanjutnya akan menjadi dasar penamaan batuan sedimen silisiklastik seperti : batupasir, batulempung, batulanau dan sebagainya.
  • Ukuran butir pada batuan silisiklastik akan berhubungan langsung dengan porositas dan permebilitas batuan karena butiran-butiran tersebut yang membentuk rongga-rongga pori.
  • klasifikasinya menggunakan parameter tekstur seperti ukuran butir, bentuk butir, sortasi dan kemas.
  • Tekstur terutama ukuran butir dalam batuan sedimen silisiklastik akan menunjukkan tingkat kedewasaan dari sedimen tersebut dan menggambarkan dinamika transportasi sedimen.

 
Nonklastik
A. Sedimen Organik
  • Pada batuan karbonat klasifikasi yang digunakan berhubungan dengan matrik dan partikel yang menyusun batuan yang dikenal dengan istilah Allochem, mikrit dan sparit.
  • Bentuk butir dalam batuan karbonat akan sangat khas jika merupakan unsur dari organisme seperti cangkang dan fragmen kerangka.
  • Bentuk butir dalam batuan karbonat akan menunjukkan energi dalam lingkungan pengendapannya.
  • Pada batuan karbonat partikel-partikel karbonat dibagi menjadi dua yaitu butiran (>0,02 mm) dan lime mud (<0,02 mm).
  • Karena sifatnya yang mudah larut ukuran butir pada batuan karbonat tidak berhubungan langsung dengan besarnya porositas dan permeabilitas batuan.
  • Pada batuan karbonat tekstur akan menunjukkan unsur-unsur organik sebagai komponen karbonat yang terdeposisi.
  • Unsur-unsur organik yang menyusun batuan karbonat dapat terdiri dari komponen organisme dengan ukuran kecil hingga besar yang dapat pula menjadi indikasi kedewasaan suatu batuan karbonat.

 
B. Sedimen Kimiawi
Pemerian sediment kimiawi meliputi :
  1. Warna batuan
  2. Komposisi
  3. Kilap
  4. Ukuran butir
  5. Mineral

 
Teksturnya :
  1. Kristalin
  2. Amorf
  3. Gelas
  4. Fibrous

 
Struktur batuan sedimen (struktur primer) umumnya tidak banyak yang dapat diamati di laboratorium karena umumnya mempunyai skala yang cukup besar.

 
Struktur batuan sediment diantaranya :
  1. Struktur perlapisan
Merupakan struktur utama batuan sedimen klastik yang menunjukkan adanya bidang-bidang perlapisan sebagai hasil proses pengendapan.

 
Faktor-faktor yang menyebabkan adanya struktur perlapisan :
  • Perbedaan warna
  • Perbedaan ukuran butir
  • Perubahan struktur sediment
  • Perbedaan komposisi mineral
  • Perbedaan kekompakan
  • Perubahan macam batuan

  1. Cross-bedding
  2. Graded bedding
  3. Ripple marks
  4. Mud cracks

Dalam klasifikasinya batuan sedimen mengacu pada proses pembentukannya, apakah termasuk dalam sediment klastik ataupun sedimen non klastik.

 

Klasifikasi batuan sediment klastik umumnya lebih sederhana karena penamaannya dapat didasarkan pada ukuran butirnya.

 

Sedangkan untuk batuan non klastik masih harus dilihat komposisinya secara menyeluruh.

 

Tabel 2. Klasifikasi batuan sediment berdasarkan proses pembentukannya

 
Sedimentary Rock Identification Chart 
TEXTURE
GRAIN SIZE
COMPOSITION
ROCK NAME
Clastic 
>2 mm 
rock fragments, quartz, feldspar
Conglomerate 
1/16 - 2 mm 
quartz, feldspar 
Sandstone 
<1/16 mm 
quartz, clay minerals 
Mudstone 
>1/16 mm 
feldspar, quartz 
Arkose 
Chemical 
  
calcite 
Limestone 
  
silica (quartz) 
Chert 
  
gypsum 
Rock Gypsum 
  
halite 
Rock Salt
Biologic   
organic material, plant fragments 
Bituminous Coal 
  
calcite, shell and skeletal fragments 
Coquina 
  
calcite with some fossils 
Fossiliferous Limestone 

 

 

 
Tabel 3. Penamaan batuan klastik

 
 Name of Rock Fragment Type
 Breccia Coarse Fragments of Angular Gravel and Rocks
 Conglomerate
 Coarse Fragments of Rounded Gravel and Rocks
 Sandstone
 Sand Sized Particles that are 90 % Quartz
 Arkose
 Sandstone composed of 25 % Feldspar Grains
 Shale
 Clay Particles
 Siltstone
 Silt Particles
 Mudstone
 Mixture of Clay and Silt
 Limestone
 Mixture of Shells, Coral, and Other Marine Skeletons 

 

 
Tabel 4. Deskripsi Batuan Sedimen
SEDIMEN KLASTIK 
SEDIMEN NONKLASTIK 
1. Ciri 
  • Perlapisan
  • Fosil tidak utuh
  • Fragmen butiran
  • Monomineralik
  • Fosil utuh
2. Struktur 
  • Perlapisan
  • Laminasi (perlapisan < 1mm)
  • Crossbedding
  • Graded bedding
  • Masif
  • Fosiliferous
3. Tekstur 
  • Ukuran butir
  • Sortasi
  • Roundness
  • Amorf
  • Kristalin
4. Komposisi 
  • Fragmen
  • Matrik
  • Semen
  • Monomineralik
5. Contoh 
  • Batupasir
  • Lanau
  • lempungPerlapisan
  • Fosil tidak utuh
Fragmen butiran 
  • Rijang
  • Batubara
  • Batugamping terumbu
  • Batugamping merah
  • Batugamping kristalin
Tabel 5. Batuan sediment hasil presipitasi kimia
 Name of Rock Precipitate Type
 Halite Sodium and Chlorine
 Gypsum Calcium, Sulfur, and Oxygen 
 Silcretes Silica 
 Ferricretes Iron 
 Limestone Calcium Carbonate 
 Dolomite Calcium Magnesium Carbonate 

No comments:

Post a Comment